Langsung ke konten utama

SOMEDAY (Sebuah kisah menunjukkan bahwa rencana Tuhan tak pernah terduga oleh manusia)




BAB IV

(HARI BARU)


Medan, 26 Desember 2019
Pukul 12:17 WIB



"kumohon jangan berubah ketika ku mulai menyayangimu. kau akan membuat luka baru dan kesedihan baru yang tidak berbeda dengan masalalu ku."

                Kembali duduk di meja sudut, Lily menikmati segelas mocaccino dingin dan mulai jemarinya mengetik setiap cerita hidupnya, menuangkan perasaan yang dialaminya kini. Lily mencoba untuk memulai dan berpikir positif hari ini. Seperti tekadnya semalam, bahwa ia akan berhenti bersedih dan mulai menikmati liburannya. Percuma dia bersedih selama liburan untuk seseorang yang bahkan tidak mempedulikannya. Lebih baik dia menikmati hari-hari terakhirnya di Medan. Lebih baik dia menikmati liburannya saja. Tadi pagi Lily tidak bangun pagi, ia terlalu malas keluar dari selimut sehingga ia melewatkan sarapan hari ini. Bangun dari kapsulnya dan Lily memutuskan untuk segera mandi. Lily menikmati mandinya hari ini, dia keramas dan mandi dengan air hangat. Mandi dengan air hangat membuatnya menikmati dan lebih relaks. Setelah mandi, Lily mengeringkan rambut dan kemudian masuk kembali kedalam kapsulnya. Dia memutuskan untuk menyalakan TV, mencari chanel TV yang menarik. Pencariannya terhenti pada channel DAAI.TV, lagu natal diputar pada channel tersebut. Sambil bermaiin telepon genggam Lily mendengarkan lagu-lagu natal. Tak terasa sudah hamper menunjukkan jam makan siang, dia merasa perutnya mulai berontak karena lapar. Lily berpikir ingin makan kimbap, tapi dia menimbang lagi dan memutuskan untuk makan di kedai bawah. Lily terlalu malas untuk pergi jauh. Selain itu, Lily ingin mengisi daya laptopnya, biarlah sambil makan dia mengisi daya laptop. Kemudian Lily bersiap untuk turun dan memesan makanannya. Ya, kini di depan nya sudah tersedia sepiring nasi goreng ayam dan segelas moccaccino. Tak perlu waktu lama, Lily menutup laptopnya dan mulai menyantap makanannya, sambil memutar aplikasi streamingnya. Sambil makan, Lily menonton serial drama korea.

            Setelah menikmati makanannya, Lily masih bertahan melanjutkan serial drama korea nya. Kali ini ia menonton genre drama yang lain. Drama komedi menjadi pilihannya, ia sengaja memilih drama tersebut agar melengkapi niatnya untuk membuat liburan menjadi lebih mengasikkan. Seberapa niat kau mau mencoba lupakan dan menipu perasaanmu itu tak akan berhasil. Pada akhirnya, sesekali Lily mengecek kembali whatsapp nya dan berharap Wisnu menghubunginya, walau itu mustahil. Lily berpikir, bahwa Wisnu benar-benar pembohong yang handal. Wisnu menjanjikan Lily untuk menelponnya setiap hari, ya kenyataannya TIDAK. Pembohong besar dan pecundang, tapi Lily mencintai pria itu. Sebagai wanita normal, Lily membenci perlakuan Wisnu, Lily kesal dengan Wisnu, tetapi perasaan kesal itu memudar karena lebih besar cinta nya daripada benci nya kepada Wisnu.

            Hari ini Lily melewati harinya dengan duduk di kedai selama 6 jam lamanya. Lily melewatkan makan siang dan makan malamnya di kedai. Setelah selesai melanjutkan cerita dan menonton serial dramanya, Lily kembali lagi ke dalam kapsulnya. Malam itu dia tidak peduli akan hari esok, yang dia inginkan adalah dia bisa lebih menikmati sisa liburnya mulai besok. “Hidup yang kamu sia-siakan hari ini, adalah hari esok yang di nanti oleh orang yang wafat kemarin.” Kalimat itu dia dapat dari serial drama yang dia tonton seharian ini.

Medan, 27 Desember 2019

Pukul 20:04 WIB



Malam ini hari kelima Lily berada di Medan. Tiga hari lagi ia akan kembali ke Siantar, empat hari setelahnya, ia akan kembali kedalam realita pekerja. Bagaimana setiap hari harus bangun dan bersiap untuk bertemu siswanya. Hal itu melelahkan pikiran dan jiwanya. Tetapi jika dipikir-pikir, sebenarnya dia sedikit rindu dengan anak kelasnya, hanya dia tak mau rebut di grup chat anak kelasnya, ia mau anak-anak itu menikmati liburan bersama keluarga. Hari ini Lily melewatinya dengan sangat menikmati liburannya. Walaupun pagi hari ia harus menangis, tapi setelah itu dia bisa menikmati hari nya.



(FLASBACK ON)

26 Desember 2019

Pukul 20:49 WIB



“jadi kakak disana sama siapa? Tinggal dimana?” tanya mami di telepon.

“sendiri, di kapsul” jawab Lily.

“berapa semalam?” tanya mami lagi.

“seratus” ucap Lily.

“berapa lama disana?” tanya mami

“delapan” jawab Lily

“oalah kak, buang buang uang!” jawab mami

Lily tak menjawab dan hanya menghhela nafas, terlalu malas untuk berdebat dengan maminya. Kalau pun dia menang berdebat, akhirnya juga dia yang salah karna membantah orang tua. Jadi, Lily putuskan untuk diam.



27 Desember 2019

Pukul 07:49 WIB



Lily bangun dari tidurnya dan mengaktifkan telepon genggamnya. Tingg.. satu pesan masuk.

“yaampun nduk, daripada uang Rp. 800.000 hanya untuk tidur di kapsul, mendingan buat bantu mami beli pasir dan semen, tapi ya sudahlah, selamat bersenang-senang, selamat berlibur, mami ya tak selamat berjuang untuk diri mami, semoga mami diberi sehat sama Tuhan.” Pesan dari mami, bukan bikin Lily semangat hari ini tetapi membuat moodnya jelek.

“iya.” Singkat saja balasan dari Lily, dia malas harus berdebat pagi-pagi.

“putuskan yang bijak dalam hidupmu, kalau hanya tidur dikapsul aja kenapa harus sampai delapan hari, kalau cari pengalaman ya cukup semalam lah. Kok sampai 8 hari, gak masuk di nalar mami sebagai perempuan. Perempuan itu kayak lumbung beras, harus rapi, rapat jangan bocor. Mau sepandai apapun suami cari uang, kalau istri tidak bisa kelola ya bocor juga lumbungnya. Wisnu aja tetap di asrama, mami kira kamu ke Medan untuk kegiatan.” Pesan mami begitu panjang.

Lily sangat malas untuk membalas tetapi agar tidak durhaka, ia pun membalasnya dengan suasana hati yang buruk di pagi hari.

“iya, maaf Lily perempuan bodoh.” Balasnya.

“makanya harus terus belajar, kan Lily berpendidikan tinggi.” Balas mami yang hanya di iyakan oleh Lily.

Sebenarnya, bukan Lily terlalu banyak uang sehingga dia hambur-hamburkan, atau bukan karna Lily bodoh mengatur keuangan,tetapi semua sudah dia perhitungkan. Alasan Lily tidak pulang adalah ia tidak mungkin pulang sekarang, terlalu banyak uang yang harus dia persiapkan, mungkin waktu it umami sempat mengatakan bahwa Lily beli tiket pergi saja, dan tiket pulang maminya yang akan belikan. Lily tidak mau, dia sudah bertekad, semiskin-miskin nya dia, dia tidak akan meminta uang kepada orang tua. Tiket untuk ke jawa saja bisa sampai empat juta pulang-pergi, bahkan bisa lebih. Kemudian, tidak mungkin dia hanya pulang, pasti harus ada yang dia bawa, belum lagi oleh-oleh saat kembali ke Siantar. Ketika disana, pasti dia akan bertemu saudara dan sudah selayaknya orang bekerja ketika tahun baru memberikan uang saku kepada yang masih kecil, karena dulu, Lily pun merasakan bagaimana diberi dan kini ia harus memberi. Begitu banyak pertimbangan Lily, belum lagi di kos tempat dia tinggal ada seorang pria yang suka mengintip dan berulah, sedangkan selama liburan semua orang di kos itu akan pulang dan ibu-bapak kosnya akan pergi ke Jakarta bertemu anaknya, pasti dia akan sendiri dan Lily takut sesuatu akan terjadi, maka dia memutuskan untuk pergi. Awalnya Lily ditawarkan untuk tinggal di Gereja, tetapi tak bisa sejak hari pertama liburan, karena ada tamu di kamar Gereja. Lily tak mungkin menunggu, karena sejak hari pertama kosnya sudah kosong, dia tidak tahu kapan tepatnya orang gila itu akan kembali ke kos, karena dia tidak menentu. Itulah alasan mengapa Lily pergi ke Medan menghabiskan waktu 8 hari. Rencana Lily sisa liburannya barulah ia pergi menginap di kamar Gereja yang sudah kosong.

Tapi memang kadang yang kita pikirkan tak terpikirkan oleh orang lain, mereka hanya melihat yang terjadi diluarnya tanpa mengetahui alas an dibalik itu semua. Lily hanya diam dan tidak mau merusak moodnya hari ini.

(FLASBACK OFF)


Menikmati, itulah yang dilakukan Lily hari ini. Nongkrong di kedai untuk sekedar bersantai menyantap makanan dan segelas kopi. Sejak liburan, Lily kembali menikmati kopi, mengingat sebulan sebelum menjelang liburan Lily melakukan diet dan hamper sebulan penuh tidak minum kopi. Bukan hanya karena beratnya yang sudah hamper obesitas semenjak di Sumatera, tetapi karena mengingat nenek dari papi memiliki penyakit gula, dia harus waspada. Selain itu, Lily diet karena merasa badannya sudah tidak sehat, gerak sedikit sendinya akan nyeri dan sesak saat bernafas, maka dari itu Lily memutuskan diet pola makan dan berolah raga. Namun, liburan ini tak bisa dipungkiri, ia sangat menikmatinya walau dia tetap makan nasi hanya sekali dalam sehari, tetapi dia meminum kopi dan tidak berolah raga. Lily berpikir bahwa nanti ketika liburan usai, ia akan kembali diet pola makan dan berolah raga. Setelah puas ada di kedai, Lily naik dan mencuci muka kemudian masuk kedalam kapsul. Lily tidak langsung tidur, tetapi menonton TV. Setelah liburan usai Lily tak mungkin bisa menonton TV lagi karena di kamar kosnya tak ada TV. Selain itu, Lily akan disibukkan dengan segala hal mengenai sekolah dan itu akan menyita waktunya, bahkan untuk melanjutkan ceritanya pun Lily merasa akan terhambat. Lama Lily menonton TV dengan semua channel dengan acara yang menarik buatnya ditonton hingga habis. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 02.00 Dini hari. Lily kemudian mematikan TV dan bersiap untuk tidur, tak lupa Lily berdoa, mendoakan dirinya, orang tuanya dan orang tua Wisnu, adiknya dan adik Wisnu, serta mendoakan Wisnu agar tetap sehat dan mau kembali menghubunginya. Selesai berdoa Lily bergegas tidur, ia bertekad untuk berhenti sedih dan menikmati sisa waktu liburanya, walau tak bisa dipungkiri pikiran itu akan tetap muncul. Pikiran mengenai Wisnu dan segala yang terjadi di hidupnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jang Geun Suk - Love Rain

bioneun jeonyeok keunyeo moseub bo-wat-jyo.. oraejeon bu-teo bogo shipdeon geunyeoreul.. usani eom-neun geunyeoe-ge marhaet-jyo.. nae usanso-geuro keudae deu-reo-oseyo~ sallangsallangsallang deullyeo-oneun bissori.. dugeun dugeundugeundugeun tteollyeo-oneun nae-gaseum.. sallangsallangsallang dugeundugeundugeun.. usansori.. bissori.. nae-gaseum sori.. sarangbi-ga naeryeo-oneyo.. bioneun geori urin du-ri geo-reot-jyo.. jo-geuman usan nae eokkae–neun jeojeot-jyo.. keunyeoneun nae-ge sujubeun -deut marhaet-jyo.. jo-geumdeo kakka-i geudae deu-reo-oseyo~ sallangsallangsallang budijchineun eokkae-ye.. dugeun dugeundugeundugeun tteollyeo-oneun nae-gaseum.. sallangsallangsallang dugeundugeundugeun.. usansokye du-eokkae- sujubeun eokkae-.. sarangbi-ga naeryeo-oneyo.. nan sarange ppajyeo-nne.. sallangsallangsallang deullyeo-oneun bissori.. dugeun dugeundugeundugeun tteollyeo-oneun nae-gaseum.. sallangsallangsallang dugeundugeundugeun.. usansori.. bissori.. nae-gaseum ...

Maudy Ayunda - Perahu Kertas

Perahu kertasku kan melaju membawa surat cinta bagimu Kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya Perahu kertas mengingatkanku betapa ajaibnya hidup ini Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri *courtesy of LirikLaguIndonesia.Net Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta) cita-cita (cinta-cinta) Yang lama ku pendam sendiri, berdua ku bisa percaya Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu Tiada lagi yang mampu berdiri Halangi rasaku, cintaku padamu Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan...

SOMEDAY (Sebuah kisah menunjukkan bahwa rencana Tuhan tak pernah terduga oleh manusia)

BAB II (OBAT TAK TERDUGA) Medan, 24 Desember 2019 Pukul 09:30 WIB                 Kembali lagi pada tempat yang sama, di meja ujung dengan sofa empuk. Lily menikmati segelas kopi hitam dan sehelai roti selai cokelat. Semalam saat kembali ke dalam kapsulnya ia tak langsung tidur. Mantan pertamanya mengirimkan pesan singkat dan menjadikan obrolan panjang malam itu. Entah seperti obat, percakapan lewan pesan teks itu membuat tidur malamnya menjadi nyenyak, mengingat malam sebelumnya tak bias dia tidur hingga subuh. Pikiran konyol pun terbesit dalam otaknya, jangan-jangan jauh kucari pacar dan ujung-ujungnya aku akan menikah dengan Yudi (mantan pertama Lily)?. Yudi bagai punya koneksi dengan keadaan Lily, dia selalu muncul saat Lily ada masalah, dan menjadi penyembuhnya. Walau Yudi sendiri pun tak pernah sadar akan hal itu. Lily dan Wisnu bekerja sebagai guru, namun jarak memisahkan keduanya, Lily...