BAB IV
(HARI BARU)
"kumohon jangan berubah ketika ku mulai menyayangimu. kau akan
membuat luka baru dan kesedihan baru yang tidak berbeda dengan masalalu
ku."
Kembali duduk di meja sudut, Lily
menikmati segelas mocaccino dingin dan mulai jemarinya mengetik setiap cerita
hidupnya, menuangkan perasaan yang dialaminya kini. Lily mencoba untuk memulai
dan berpikir positif hari ini. Seperti tekadnya semalam, bahwa ia akan berhenti
bersedih dan mulai menikmati liburannya. Percuma dia bersedih selama liburan
untuk seseorang yang bahkan tidak mempedulikannya. Lebih baik dia menikmati
hari-hari terakhirnya di Medan. Lebih baik dia menikmati liburannya saja. Tadi
pagi Lily tidak bangun pagi, ia terlalu malas keluar dari selimut sehingga ia
melewatkan sarapan hari ini. Bangun dari kapsulnya dan Lily memutuskan untuk
segera mandi. Lily menikmati mandinya hari ini, dia keramas dan mandi dengan
air hangat. Mandi dengan air hangat membuatnya menikmati dan lebih relaks. Setelah
mandi, Lily mengeringkan rambut dan kemudian masuk kembali kedalam kapsulnya.
Dia memutuskan untuk menyalakan TV, mencari chanel TV yang menarik.
Pencariannya terhenti pada channel DAAI.TV, lagu natal diputar pada channel
tersebut. Sambil bermaiin telepon genggam Lily mendengarkan lagu-lagu natal.
Tak terasa sudah hamper menunjukkan jam makan siang, dia merasa perutnya mulai
berontak karena lapar. Lily berpikir ingin makan kimbap, tapi dia menimbang
lagi dan memutuskan untuk makan di kedai bawah. Lily terlalu malas untuk pergi
jauh. Selain itu, Lily ingin mengisi daya laptopnya, biarlah sambil makan dia
mengisi daya laptop. Kemudian Lily bersiap untuk turun dan memesan makanannya.
Ya, kini di depan nya sudah tersedia sepiring nasi goreng ayam dan segelas
moccaccino. Tak perlu waktu lama, Lily menutup laptopnya dan mulai menyantap
makanannya, sambil memutar aplikasi streamingnya. Sambil makan, Lily menonton
serial drama korea.
Setelah menikmati makanannya, Lily
masih bertahan melanjutkan serial drama korea nya. Kali ini ia menonton genre
drama yang lain. Drama komedi menjadi pilihannya, ia sengaja memilih drama
tersebut agar melengkapi niatnya untuk membuat liburan menjadi lebih
mengasikkan. Seberapa niat kau mau mencoba lupakan dan menipu perasaanmu itu
tak akan berhasil. Pada akhirnya, sesekali Lily mengecek kembali whatsapp nya
dan berharap Wisnu menghubunginya, walau itu mustahil. Lily berpikir, bahwa
Wisnu benar-benar pembohong yang handal. Wisnu menjanjikan Lily untuk
menelponnya setiap hari, ya kenyataannya TIDAK. Pembohong besar dan pecundang,
tapi Lily mencintai pria itu. Sebagai wanita normal, Lily membenci perlakuan
Wisnu, Lily kesal dengan Wisnu, tetapi perasaan kesal itu memudar karena lebih
besar cinta nya daripada benci nya kepada Wisnu.
Hari ini Lily melewati harinya
dengan duduk di kedai selama 6 jam lamanya. Lily melewatkan makan siang dan
makan malamnya di kedai. Setelah selesai melanjutkan cerita dan menonton serial
dramanya, Lily kembali lagi ke dalam kapsulnya. Malam itu dia tidak peduli akan
hari esok, yang dia inginkan adalah dia bisa lebih menikmati sisa liburnya
mulai besok. “Hidup yang kamu sia-siakan hari ini, adalah hari esok yang di
nanti oleh orang yang wafat kemarin.” Kalimat itu dia dapat dari serial drama
yang dia tonton seharian ini.
Medan, 27 Desember 2019
Pukul 20:04 WIB
Malam ini hari kelima Lily berada di Medan. Tiga
hari lagi ia akan kembali ke Siantar, empat hari setelahnya, ia akan kembali
kedalam realita pekerja. Bagaimana setiap hari harus bangun dan bersiap untuk
bertemu siswanya. Hal itu melelahkan pikiran dan jiwanya. Tetapi jika
dipikir-pikir, sebenarnya dia sedikit rindu dengan anak kelasnya, hanya dia tak
mau rebut di grup chat anak kelasnya, ia mau anak-anak itu menikmati
liburan bersama keluarga. Hari ini Lily melewatinya dengan sangat menikmati
liburannya. Walaupun pagi hari ia harus menangis, tapi setelah itu dia bisa
menikmati hari nya.
(FLASBACK ON)
26 Desember 2019
Pukul 20:49 WIB
“jadi
kakak disana sama siapa? Tinggal dimana?” tanya mami di telepon.
“sendiri,
di kapsul” jawab Lily.
“berapa
semalam?” tanya mami lagi.
“seratus”
ucap Lily.
“berapa
lama disana?” tanya mami
“delapan”
jawab Lily
“oalah
kak, buang buang uang!” jawab mami
Lily
tak menjawab dan hanya menghhela nafas, terlalu malas untuk berdebat dengan
maminya. Kalau pun dia menang berdebat, akhirnya juga dia yang salah karna
membantah orang tua. Jadi, Lily putuskan untuk diam.
27 Desember 2019
Pukul 07:49 WIB
Lily
bangun dari tidurnya dan mengaktifkan telepon genggamnya. Tingg.. satu
pesan masuk.
“yaampun
nduk, daripada uang Rp. 800.000 hanya untuk tidur di kapsul, mendingan buat
bantu mami beli pasir dan semen, tapi ya sudahlah, selamat bersenang-senang,
selamat berlibur, mami ya tak selamat berjuang untuk diri mami, semoga mami
diberi sehat sama Tuhan.” Pesan dari mami, bukan bikin Lily semangat hari ini
tetapi membuat moodnya jelek.
“iya.”
Singkat saja balasan dari Lily, dia malas harus berdebat pagi-pagi.
“putuskan
yang bijak dalam hidupmu, kalau hanya tidur dikapsul aja kenapa harus sampai
delapan hari, kalau cari pengalaman ya cukup semalam lah. Kok sampai 8 hari,
gak masuk di nalar mami sebagai perempuan. Perempuan itu kayak lumbung beras,
harus rapi, rapat jangan bocor. Mau sepandai apapun suami cari uang, kalau
istri tidak bisa kelola ya bocor juga lumbungnya. Wisnu aja tetap di asrama,
mami kira kamu ke Medan untuk kegiatan.” Pesan mami begitu panjang.
Lily
sangat malas untuk membalas tetapi agar tidak durhaka, ia pun membalasnya
dengan suasana hati yang buruk di pagi hari.
“iya,
maaf Lily perempuan bodoh.” Balasnya.
“makanya
harus terus belajar, kan Lily berpendidikan tinggi.” Balas mami yang hanya di
iyakan oleh Lily.
Sebenarnya,
bukan Lily terlalu banyak uang sehingga dia hambur-hamburkan, atau bukan karna
Lily bodoh mengatur keuangan,tetapi semua sudah dia perhitungkan. Alasan Lily
tidak pulang adalah ia tidak mungkin pulang sekarang, terlalu banyak uang yang
harus dia persiapkan, mungkin waktu it umami sempat mengatakan bahwa Lily beli
tiket pergi saja, dan tiket pulang maminya yang akan belikan. Lily tidak mau,
dia sudah bertekad, semiskin-miskin nya dia, dia tidak akan meminta uang kepada
orang tua. Tiket untuk ke jawa saja bisa sampai empat juta pulang-pergi, bahkan
bisa lebih. Kemudian, tidak mungkin dia hanya pulang, pasti harus ada yang dia
bawa, belum lagi oleh-oleh saat kembali ke Siantar. Ketika disana, pasti dia
akan bertemu saudara dan sudah selayaknya orang bekerja ketika tahun baru
memberikan uang saku kepada yang masih kecil, karena dulu, Lily pun merasakan
bagaimana diberi dan kini ia harus memberi. Begitu banyak pertimbangan Lily,
belum lagi di kos tempat dia tinggal ada seorang pria yang suka mengintip dan
berulah, sedangkan selama liburan semua orang di kos itu akan pulang dan
ibu-bapak kosnya akan pergi ke Jakarta bertemu anaknya, pasti dia akan sendiri
dan Lily takut sesuatu akan terjadi, maka dia memutuskan untuk pergi. Awalnya
Lily ditawarkan untuk tinggal di Gereja, tetapi tak bisa sejak hari pertama
liburan, karena ada tamu di kamar Gereja. Lily tak mungkin menunggu, karena
sejak hari pertama kosnya sudah kosong, dia tidak tahu kapan tepatnya orang
gila itu akan kembali ke kos, karena dia tidak menentu. Itulah alasan mengapa
Lily pergi ke Medan menghabiskan waktu 8 hari. Rencana Lily sisa liburannya
barulah ia pergi menginap di kamar Gereja yang sudah kosong.
Tapi
memang kadang yang kita pikirkan tak terpikirkan oleh orang lain, mereka hanya
melihat yang terjadi diluarnya tanpa mengetahui alas an dibalik itu semua. Lily
hanya diam dan tidak mau merusak moodnya hari ini.
(FLASBACK OFF)
Menikmati, itulah yang
dilakukan Lily hari ini. Nongkrong di kedai untuk sekedar bersantai menyantap
makanan dan segelas kopi. Sejak liburan, Lily kembali menikmati kopi, mengingat
sebulan sebelum menjelang liburan Lily melakukan diet dan hamper sebulan penuh
tidak minum kopi. Bukan hanya karena beratnya yang sudah hamper obesitas
semenjak di Sumatera, tetapi karena mengingat nenek dari papi memiliki penyakit
gula, dia harus waspada. Selain itu, Lily diet karena merasa badannya sudah
tidak sehat, gerak sedikit sendinya akan nyeri dan sesak saat bernafas, maka
dari itu Lily memutuskan diet pola makan dan berolah raga. Namun, liburan ini
tak bisa dipungkiri, ia sangat menikmatinya walau dia tetap makan nasi hanya
sekali dalam sehari, tetapi dia meminum kopi dan tidak berolah raga. Lily
berpikir bahwa nanti ketika liburan usai, ia akan kembali diet pola makan dan
berolah raga. Setelah puas ada di kedai, Lily naik dan mencuci muka kemudian
masuk kedalam kapsul. Lily tidak langsung tidur, tetapi menonton TV. Setelah
liburan usai Lily tak mungkin bisa menonton TV lagi karena di kamar kosnya tak
ada TV. Selain itu, Lily akan disibukkan dengan segala hal mengenai sekolah dan
itu akan menyita waktunya, bahkan untuk melanjutkan ceritanya pun Lily merasa
akan terhambat. Lama Lily menonton TV dengan semua channel dengan acara
yang menarik buatnya ditonton hingga habis. Tak terasa waktu menunjukkan pukul
02.00 Dini hari. Lily kemudian mematikan TV dan bersiap untuk tidur, tak lupa
Lily berdoa, mendoakan dirinya, orang tuanya dan orang tua Wisnu, adiknya dan
adik Wisnu, serta mendoakan Wisnu agar tetap sehat dan mau kembali
menghubunginya. Selesai berdoa Lily bergegas tidur, ia bertekad untuk berhenti sedih
dan menikmati sisa waktu liburanya, walau tak bisa dipungkiri pikiran itu akan
tetap muncul. Pikiran mengenai Wisnu dan segala yang terjadi di hidupnya.
Komentar
Posting Komentar