Langsung ke konten utama

SOMEDAY (Sebuah kisah menunjukkan bahwa rencana Tuhan tak pernah terduga oleh manusia)


BAB V

(DIA atau BUKAN)



Pematangsiantar, 05 Januari 2020

Pukul 01:30 WIB



"Ketika sesuatu itu datang, kau harus siap bahwa suatu saat ia akan pergi juga. Nikmati saja waktu ini, anggaplah ini hari terakhir kalian, jangan sia-siakan."


Hingga dini hari Lily belum bisa tidur, semalam ia habiskan waktu untuk video call bersama Yudi. Percakapan mereka semalam lebih didominasi dengan bercanda. Namun, ada terselip harapan dan doa. Kadang terlintas dipikiran Lily, apakah Tuhan hanya sedang mengajaknya untuk berkelana. Sebenarnya dia sudah menemukan jodohnya namun, ketidak pekaan dan kurangnya berdoa membuat Lily tidak sadar bahwa selama ini jodohnya sudah ada. Jika dipikir-pikir Yudi dan Lily sudah putus lama sekali, 10 tahun lalu. Hubungan mereka masih saja terjajlin baik, bahkan banyak hal yang saling dicurhatkan oleh mereka, terutama tentang asmara. Tak jarang juga mereka saling menggoda satu sama lain. Sebenarnya antara Yudi dan Lily sama-sama tidak paham dengan perasaan mereka sendiri, apakah masih ada cinta dihati mereka walau hanya sedikit.



(FLASBACK ON)

04 Januari 2020

Pukul 19:49 WIB



Tingg… notifikasi pesan whatsapp masuk, dengan tidak begitu semangat Lily mengecek siapa yang mengirimkan pesan untuknya. Selama ini setiap notifikasi pesan masuk, Lily selalu segera membuka dan berharap itu dari Wisnu, kenyataan nya taka da pesan dari Wisnu. Hal ini membuat ia sudah sedikit pasrah, walau belum sepenuhnya, sehingga sudah tak terlalu bersemangat membuka telepon genggamnya. Tadi siang saat sampai di kamar kos, Lily mengirim pesan pada Wisnu bahwa ia sudah di kos dan mulai kembali tidur di kos. Bagai perempuan bodoh, Lily mengirim pesan dengan harapan akan dibalas, padahal ia tahu itu mustahil, karena pesan-pesan yang dia kirim sebelumnya hanya dibaca tanpa respon. Jadi Lily setelah mengirim pesan tadi siang, ia tidak terlalu berharap akan dibalas, ia hanya mengabari Wisnu, agar dia tahu bahwa Lily sudah pulang ke kamar kosnya. Entah nanti dibaca atau tidak, Lily sebagai seorang kekasih merasa perlu memberi kabar. Notifikasi pesan yang baru saja masuk tidak terlalu ditanggapi dengan semangat, ia membuka telepon genggam dengan malas. Kemudian mata sayu itu terbelalak dengan lebar, notifikasi itu adalah pesan dari Wisnu. Lelaki itu membalas pesan Lily. “Ok. Senin baru aku telfon kamu.” Begitu pesan dari Wisnu. Secepatnya Lily membalas, “iyaa.. J”. Lily begitu bahagia. Merasakan bahwa Tuhan menjawab doanya. Entah kenapa, air matanya jatuh dan ia menangis. Aneh, ya itulah Lily, dia tidak sedih dan dia sedang bahagia, tetapi kenapa air mattanya justru jatuh. Kemudian Lily berdoa dan mengucap syukur karena Tuhan menjawab doanya. Setelah itu tiba-tiba ada perasaan khawatir muncul dalam hatinya. Lily merasa sedih dan takut, apa yang akan dikatakan Wisnu hari senin, apakah ia akan memutuskan Lily. Ia takut, ia belum siap bila harus berpisah. Rasa takut itu tak teerlalu mendominasi perasaannya, lebih besar perasaan bahagia karena Wisnu merespon pesannya. Bila diingat ini adalah hari kelima belas Wisnu mengabaikannya, hingga pesan itu muncul dan membuat Lily sangat bahagia. Secepatnya Lily membuka telepon genggam dan mengirim pesan pada Yudi.

“Dia chat aku!” tulis Lily.

“terus?” balas Yudi.

“awalnya aku sih yang chat duluan, dasar aku kan tetap seperti pengemis, udah tahu dia gak balas tapi aku tetep kirim pesan, aku bilang kalau aku udah di kos dan udah tidur di kos, terus dia balas, dia bilang kalau senin baru telepon aku, aku seneng dan langsung balas iya pake emoticon gitu!” tulis Lily dengan senang.

“tapi aku takut, dia mau bilang apa ya hari senin, jangan-jangan dia mau putusin aku, aku belum siap dan takut. Jujur aku tadi dapat balasan pesan dari dia, aku senang, tapi air mataku langsung keluar, aku nangis beneran. Kayak seneng banget gitu Tuhan jawab doaku. Tapi sisi lain aku takut, hari senin dia bakal putusin aku. Iya aku takut, tapi aku juga mikir gak mungkin maksain dia untuk tetap sama aku, sedangkan dia gak bahagia, dia yang ada kepaksa karena udah gak ada perasaan. Aku sedih iya pasti, tapi kalau itu sudah keputusan dia, ya aku cuma bisa terima dengan berbesar hati. Aku bisa apa, aku harus ikhlas kan. Tapi hari senin, aku gak akan sia-siain waktu lagi kayak kemarin, aku gak mau aku nyesel lagi kayak kemarin, kalau aku tahu hari itu adalah hari terakhir kita komunikasi, aku pasti buat kenangan baik, setidaknya aku gak nyesek. Makanya besok senin, entah apa yang terjadi, apakah kita lanjut atau putus, aku mau melakukan seperti itu hari terakhir kita walaupun sedih.” Tulis pesan Lily panjang sekali melanjutkan pesan sebelumnya.

“udah, sakit pasti, tapi kalau itu yang terbaik, kamu doa aja!” jawab Yudi.

“iya” balas Lily.

“senin besok dia teleponnya? Dia Cuma chat gitu?” tanya Yudi.

“iya senin besok, gitu aja chatnya” balas Lily.

“kamu kos atau asrama?” tanya Yudi.

“kos” balas Lily.

Tidak ada balasan dari Yudi, tetapi tidak lama kemudian .. ddrrrttt…ddrrrrttttt…dddrrrrrttt…. Telepon genggam Lily bergetar tanda ada telepon masuk, dilihatnya bahwa itu panggilan video call, layar masih gelap dan hati Lily deg-degan, menebak-nebak apakah itu Wisnu. Ketika layar menyala, panggilan video call itu dari Yudi. Sebelum mengangkatnya Lily membenahi penampilannya yang berantakan. Kemudian saat diangkat, bukannya langsung bicara tapi mereka saling menatap dan tertawa, karena selama ini Yudi tak mau di telepon, hanya suka lewat chat, dan sekarang tiba-tiba dia menelpon Lily. Setelah mereka meredakan kegelian mereka kemudian mulai Yudi yang berbicara.

“ih kok bullet, gendut, bunder!” sahut Yudi.

“ihhhhh baru telepon udah hina-hina dasar… hahaha.. biar kan aku tetep imut!” jawab Lily.

Mereka berdua tertawa.

“kok belum tidur?” tanya Lily

“lagi nunggu siapa yang pertama ucapin!” jawab Yudi sambil senyum.

Ucapin? Pertama? Apa? Pikir Lily sambil tertawa melihat muka Yudi. Oh iya besok minggu, Yudi ulang tahun, astaga hamper lupa! Batin Lily.

“Oh nunggu ucapan dari aku ahahhaha” ujar Lily.

“Enggak, ya siapa aja” sahut Yudi.

“aku gak mau ucapin duluan, udah lama aku jadi yang pertama, nanti ucapan ku terakhir jam 23.59, aku mau jadi yang terakhir hahahaha… terakhir dihidupmu juga” kata Lily kemudian tertawa dan diikuti oleh tawa Yudi.

“iyaiya yang terakhir!” sahut Yudi.

“kenapa sih tumben kamu telepon?” tanya Lily lagi memastikan.

“aku mau lihat kamu nangis!” jawab Yudi.

“huhuhuhu.. iya nih aku sedih!” kata Lily sambil pura-pura nangis. Bukan membuat Yudi iba, malah ditertawakan oleh Yudi.

“alay.. hahahaha.. gak usah galau, harus kuat!” ujar Yudi.

“iya aku kuat kok, Cuma sedih aja! Haha” jawab Lily.

“yaudah nangis gih cepat!” perintah Yudi.

“ihhh kok malah nyuruh nangis??!!” sewot Lily.

“iya, karna cuma kamu aja yang aku gak pernah lihat nangis! Makanya aku mau lihat kamu nangis!” jawab Yudi.

“ihhh sorry, aku anti nangis depan cowok, karna aku tahu, cowok itu gak tega lihat cewek nangis. Aku gak minta di kasihani, aku minta dicintai.” Kata Lily.

“ahh.. depan pacarmu masak gak nangis?” tanya Yudi tak percaya.

“iya, enggak pernah, karna kalau berantem aku habis tutup telepon baru nangis!” jawab Lily.

“kalau aku tuh bakal ku telepon balik.”  Sahut Yudi.

“ya, kalau telepon balik, aku bakal bersihin ingusku, kompres mata, habis itu angkat telepon kasih senyuman.” Ujar Lily sambil mempraktekan bagaimana ia tersenyum.

“hahaha,, gausah senyum, makin bulet!” jawab Yudi. Mereka pun tertawa. Selanjutnya obrolan mereka berlanjut. Saling menggoda, saling curhat, saling mengejek itulah isi obrolan mereka malam ini. Hingga godaan akan pernikahan.

“nanti kalau umur 27, kamu belum nikah, aku juga belum nikah, kita nikah aja yukk berdua hahaha.. “ ujar Lily bercanda walau mungkin candaan itu ada unsur kode.

“iya kita nikah.” Jawab Yudi.

“bener ya, hahaha.. kamu putusin pacarmu dan aku putusin pacarku, kita nikah” canda Lily.

“iya umur 27 nikah… hahaha” sahut Yudi.

“aku sebenernya pengen gitu, bangun tidur ada yang ngajak yuk baca alkitab.” Ujar Yudi lagi.

“ya kamu ajak pacarmu, kenapa sih, masih banyak loh orang  seperti kita diluar sana, kenapa harus pilih yang beda.” Sahut Lily.

“ya orang ketemunya itu”  jawab Yudi.

“hmmm… yaudah aku doain ya,, supaya kamu dapat pasangan yang satu tujuan dan seiman. Eh,, tapi ya, kan habis putus sama aku pacarmu selalu yang beda, gak ada yang sama, jangan-jangan tuh Tuhan nanti akhirnya nunjukkin kalau jodohmu itu aku hahahaha” kata Lily.

“iya sih aku juga mikirnya gitu hahaha” kata Yudi lagi sambil senyum.

“yaudah gak apa-apa, kamu berkelana dulu, aku juga, nanti tujuan kita kan sama! Hahahaha” jawab Lily. Disusul ketawa Yudi.

“iya tujuan kita sama, cuma aku lagi belok-belok aja, banyak singgah cari makan.” Kata Yudi sambil senyum.

“yaudah, sampai ketemu di tempat tujuan ya, umur 27 kan??” kata Lily, tidak ada jawaban dari Yudi, tapi anggukan setuju. Mereka pun tertawa bersama. Obrolan it uterus berlanjut.

“kamu udah ngantuk, tidur sana!” perintah Lily.

“enggak kok, kamu udah ngantuk? Yaudah tidurlah!” kata Yudi.

“ihhh sok bilang belum ngantuk, mata merah gitu udah merem melek.. kalau aku gak ngantuk, tadi udah minum kopi.. gausah tungguin aku ucapin aku bilang nanti aku terakhir,, hahhaha… tidur.. besok aku bangunin pake ayat.. hahaha” kata Lily.

“kopi mulu! Yaudah kalau gitu!” kata Yudi

“yaudah daaa… “ balas Lily



“daaa… “ jawab Yudi, dan kemudian obrolan mereka selesai.

(FLASBACK OFF)



             Obrolan panjang malam ini seakan membuat mood buruk dan kegelisahan Lily sirna. Lily sedikit berpikir bahwa kadang tak pernah kita tahu apa rencana Tuhan untuk pasangan hidup kita. Entah kenapa, jika dipikir-pikir bahwa Yudi selalu ada disaat terpuruk Lily dengan pasangan, sejak SMA hingga sekarang. Bagaikan magnet yang langsung tekoneksi. Yudi seperti tahu saat Lily butuh seseorang untuk mengeluarkan semua kegelisahannya dan kesedihan yang terpendam. Lily bukanlah perempuan yang pintar mengungkapkan perasaannya, selama ini perasaan sedihnya selalu disimpan sendiri, karena Lily merasa bahwa tak akan ada yang mengerti.  Lily juga merasa bahwa setiap orang punya masalah dan ia tak mau menambah beban pikirian orang lain. Tapi entah kenapa, Lily merasa didengar dan direspon apabila bersama Yudi. Nyaman, itu adalah kata yang berdampak besar dan Lily merasa harus berhati-hati. Bukan mau membandingkan dengan Wisnu, hanya saja jika diingat-ingat selama ini, Lily suka sekali bercerita perasaannya pada Wisnu, memang lelaki itu mendengarkan, namun tak memberikan respon, Lily merasa seperti radio yang hanya berbicara sendiri. Lily menghapus pikiran itu dan mulai berpikir jernih bahwa dia dan Yudi itu tak bisa terlalu nyaman, biarlah waktu Tuhan yang mengatur. Mereka berdua sama-sama sudah memiliki pasangan, jika jodoh tak akan kemana.



"Tuhan itu menciptakan manusia berpasangan, menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Jika sekarang kau putus, bukan berarti taka da jodohmu, kau hanya belum menemukan rusuk yang tepat untuk kau lengkapi."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jang Geun Suk - Love Rain

bioneun jeonyeok keunyeo moseub bo-wat-jyo.. oraejeon bu-teo bogo shipdeon geunyeoreul.. usani eom-neun geunyeoe-ge marhaet-jyo.. nae usanso-geuro keudae deu-reo-oseyo~ sallangsallangsallang deullyeo-oneun bissori.. dugeun dugeundugeundugeun tteollyeo-oneun nae-gaseum.. sallangsallangsallang dugeundugeundugeun.. usansori.. bissori.. nae-gaseum sori.. sarangbi-ga naeryeo-oneyo.. bioneun geori urin du-ri geo-reot-jyo.. jo-geuman usan nae eokkae–neun jeojeot-jyo.. keunyeoneun nae-ge sujubeun -deut marhaet-jyo.. jo-geumdeo kakka-i geudae deu-reo-oseyo~ sallangsallangsallang budijchineun eokkae-ye.. dugeun dugeundugeundugeun tteollyeo-oneun nae-gaseum.. sallangsallangsallang dugeundugeundugeun.. usansokye du-eokkae- sujubeun eokkae-.. sarangbi-ga naeryeo-oneyo.. nan sarange ppajyeo-nne.. sallangsallangsallang deullyeo-oneun bissori.. dugeun dugeundugeundugeun tteollyeo-oneun nae-gaseum.. sallangsallangsallang dugeundugeundugeun.. usansori.. bissori.. nae-gaseum ...

Maudy Ayunda - Perahu Kertas

Perahu kertasku kan melaju membawa surat cinta bagimu Kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya Perahu kertas mengingatkanku betapa ajaibnya hidup ini Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri *courtesy of LirikLaguIndonesia.Net Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta) cita-cita (cinta-cinta) Yang lama ku pendam sendiri, berdua ku bisa percaya Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu Tiada lagi yang mampu berdiri Halangi rasaku, cintaku padamu Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan...

SOMEDAY (Sebuah kisah menunjukkan bahwa rencana Tuhan tak pernah terduga oleh manusia)

BAB II (OBAT TAK TERDUGA) Medan, 24 Desember 2019 Pukul 09:30 WIB                 Kembali lagi pada tempat yang sama, di meja ujung dengan sofa empuk. Lily menikmati segelas kopi hitam dan sehelai roti selai cokelat. Semalam saat kembali ke dalam kapsulnya ia tak langsung tidur. Mantan pertamanya mengirimkan pesan singkat dan menjadikan obrolan panjang malam itu. Entah seperti obat, percakapan lewan pesan teks itu membuat tidur malamnya menjadi nyenyak, mengingat malam sebelumnya tak bias dia tidur hingga subuh. Pikiran konyol pun terbesit dalam otaknya, jangan-jangan jauh kucari pacar dan ujung-ujungnya aku akan menikah dengan Yudi (mantan pertama Lily)?. Yudi bagai punya koneksi dengan keadaan Lily, dia selalu muncul saat Lily ada masalah, dan menjadi penyembuhnya. Walau Yudi sendiri pun tak pernah sadar akan hal itu. Lily dan Wisnu bekerja sebagai guru, namun jarak memisahkan keduanya, Lily...