“Kupikir
ceritaku sudah dimulai, kupikir ceritaku telah lama berjalan dan aku tinggal
menunggu akhirnya yang bahagia. Namun aku salah, ketika aku menemukan seseorang
yang berarti dihidupku, itu menyadarkanku bahwa pada akhirnya aku harus
melepaskannya dan membiarkan ceritaku tak sampai pada akhir bahagia seperti
yang ku harapkan.”
Arinda Euodia Georgina
Lirik
lagu dari radio yang begitu indah dan memberikan ketenangan hati yang galau itu
mengalir begitu lembut, menjadi perantara untuk mengungkapkan isi hati yang
sangat merindukan seseorang. “Mau
dikatakan apalagi cinta tak akan pernah satu, engkau disana, aku disini meski
hatiku memilihmu..” “iya sahabat Solagratia FM, lagu barusan menutup
perjumpaan kita, saya Arinda mengucapkan selamat malam untuk kalian semua.”
Sapa lembut penyiar radio yang sering dipanggil akrab dengan nama Arinda. Arinda
adalah mahasiswa jurusan Psikologi di UPH Tangerang-Jakarta. Dia aktif diberbagai
kegiatan , kegiatan kampus maupun kegiatan diluar kampus. Dia bekerja sebagai
penyiar radio itu bukan karena semata-mata keluarganya kurang mampu sehingga
dia harus mencari kerja untuk membantu keluarganya, dia melakukan kegiatan ini
hanya untuk mengisi setiap hari-harinya yang kosong sejak kejadian itu. Walaupun
kejadian itu sudah belalu begitu lama, namun ia masih tak bisa melupakannya. Sehingga
ia mencari banyak kesibukan.
2 tahun lalu, 13 Maret 2014…
“gimana kalau kita putus aja? Aku pikir lagi, aku gak
mungkin maksa kamu untuk berubah kayak dulu lagi. Dan aku udah coba nerima
semua perubahanmu, tapi dari kamunya gak dukung aku, tiap ketemu aku kamu
bawaannya marah terus, aku pikir mending kita gausah ketemu aja sekalian.
Lagipula aku tau bebanmu banyak, aku sayang banget sama kamu, tapi aku gak mau
kalau jadi beban buat kamu.. jadi kita putus aja..” kata Arinda dengan berusaha
menahan tangisnya. “oke gak apa-apa.. awalnya itu aku juga mau mutusin kamu,
aku mau ngurangi satu bebanku.. ” sahut Adrian, “yaa.. aku bisa ngerti posisimu
kok, lebih baik kita jadi teman aja.” Jawab Arinda, kemudian ia segera masuk
kelas meninggalkan Adrian yang berdiri didepan kelas kemudian pergi. Saat itu
juga, Arinda merasa tak mampu menahan air matanya, namun ia tidak menangis, ia
berpikir ia harus tetap kuat.
“woii
neng, ngelamun aja lo!” sapa Joki sahabat Arinda dari belakang dengan
tiba-tiba, Joki adalah anak pemilik Gracias radio tempat Arinda bekerja, tapi
Joki kadang ikut siaran juga, dia satu kampus dan satu jurusan dengan Arinda. “sialan
lo, kaget tau!” sahut Arinda yang kaget sambil memukul bahu Joki, sambil
menghindar dari pukulan, Joki segera duduk disamping Arinda. “ahahaha.. mikirin
apa sih lo neng,,? Masih mikirin mantan lo yang gak tau diri itu?” ledek Joki,
ia mengetahui semua cerita masalalu Arinda, sejak awal masuk kuliah hingga
sekarang, salah satu sahabat Arinda adalah Joki, memang Arinda punya banyak
teman, namun hanya dua orang yang paling dekat, salah satunya adalah si Joki.
“hussshh,, bisa gak sih lo gak usah jelek-jelekin dia!” jawab Arinda ketus,
tiap Joki mengungkit masalalunya itu, muka Arinda yang tadinya bersahabat
langsung jadi ganas walaupun sebenarnya kadang Arinda sering memikirkan Adrian.
Sangking usilnya si Joki, dia mengabaikan tatapan ganas Arinda, dia tetap
nyerocos aja mengungkit-ungkit masalalu Arinda, “eh, gue bilangin ya.. cowok
didunia ini itu masih banyak, ngapain sih lo mikirin orang yang mungkin sekarang
udah gak pernah mikirin lo lagi,, sadar.. move
on!” “kalau lo datang dan duduk disamping gue Cuma buat ngomongin hal yang
gak penting, mending gua cabut!” jawab ketus Arinda kemudian berdiri dan siap
pergi, “iye maaf, jangan pergi dong.. kalau lo pergi gue sama siapa dong
disini.. maksud gue kemari kan mau jemput elo sahabat gue yang paling manis
deh..” sahut Joki sambil menarik tangan Arinda, dan membuatnya terduduk lagi.
“sama kuntil aja lo disini, anterin tuh kuntil pulang..!” “lo kira gue supirnya
kuntil? Ogah…!” jawab Joki, “jangan marah yaa.. gue tadi kan cuma kasih saran..
” sahutnya lagi, kali ini dengan menunjukkan wajah memelas andalannya setiap
Arinda marah, dan cara itu selalu berhasil, biasanya Arinda jadi gak marah
lagi, bukan karena kasian, tapi muka Joki itu jadi lucu banget, sampek Arinda
gak kuat ketawa. Alhasil, Arinda gak marah, “iya deh,, asal jangan ngomong gitu
lagi..” sahut Arinda, “siap bos!” jawab Joki. “yaudah.. cepet anterin gue
pulang, capek gue.. mau tidur!” “tadi gak mau dianter pulang, gue disuruh
nganter kuntil.. “ “lo mau nganterin gak, kalau gak.. gue pulang sendiri!”
“iyee.. bercanda, sensitif lo.. lagi dapet yaa??” “cerewet!! Cepetan..!” sahut
Arinda. “iyaa iyaa.. ayo..” ajak Joki. Mereka pun pulang .
Ketika
sampai didepan kos Arinda, didepan gerbang sudah ada ibu kos dengan sapu di
tangannya. “yahh.. si singa udah didepan bawa sapu terbang lagi,,” sahut Joki,
dan mereka berdua tertawa. “haha.. lo kira singa lampir? udah dulu yaa.. gue
masuk dulu, thanks udah dijemput dan dianterin.. daa..” sahut Arinda sambil
membuka pintu mobil, kemudian menutupnya lalu melambaikan tangan kearah mobil. Joki segera melajukan mobilnya pergi dari
situ, takut kena damprat sama ibu kos Arinda yang terkenal galaknya tujuh
turunan. Dulu juga pernah kayak gini, Joki nganterin Arinda pulang siaran, eh
malah didamprat sama ibu kosnya Arinda, dikira dia pacarnya Arinda dan bawa
Arinda keluyuran sampek pulang malam. Akhirnya setelah dijelasin akhirnya ibu
kos itu ngerti, tapi walaupun kayak gitu, tetep aja si Joki trauma, dan gak mau
berurusan sama ibu kos Arinda. Setelah mobil Joki tak tampak lagi Arinda segera
masuk. Dikamar Arinda memikirkan kata-kata joki tadi, “eh,
gue bilangin ya.. cowok didunia ini itu masih banyak, ngapain sih lu mikirin
orang yang mungkin sekarang udah gak pernah mikirin lu lagi,, sadar.. move
on!”. Sambil menatap foto yang terbingkai indah dalam bingkai
beruang, Arinda berkata, “mungkin Adrian gak akan pernah mikirin aku lagi, tapi
aku gak akan pernah berhenti untuk mikirin dia, kalaupun dia udah pergi dari
otakku, tapi perasaanku ke Adrian gak akan pergi dari hati ini..”. tetes air
mata pun jatuh membasahi pipinya, kenangan bersama Adrian teringat lagi
olehnya.
“I love you..” kata Adrian kepada Arinda kemudian mengecup
bibirnya dengan lembut. “love you too..” jawab Arinda. “jangan pernah tinggalin
aku yaa.. semua udah aku kasih buat kamu, semuanya.. “ katanya lagi. “iya
sayang.. aku gak akan tinggalin kamu.. aku sayang banget sama kamu,, aku cintaa
banget sama kamu..!” sahut Adrian kemudian memeluk Arinda. Ketika di motor,
Arinda memeluk tubuh Adrian begitu erat, ia pernah berkata pada Adrian,
‘pelukan seseorang itu dapat mengukur seberapa sayang orang itu, semakin erat
pelukannya itu menandakan ia terlalu sayang dan gak mau kehilangan orang yang
dipeluknya’ itulah yang dia rasakan, Arinda begitu mencintai Adrian, ia takut
untuk kehilangan cowok didepannya itu, menyadari hal itu, Adrian melepas tangan
kiri dari setirnya dan ia memegang tangan lembut Arinda yang memeluknya dan
berkata, “kamu takut kehilangan aku ya? Kamu sayang banget sama aku ya? Aku gak
akan tinggalin kamu.. “ .
To be continue ....
Komentar
Posting Komentar