Langsung ke konten utama

Ketika Perasaan bukan Logika

Continue .. (Ketika Perasaan bukan Logika)

Semakin deras air mata Arinda yang jatuh membasahi pipinya, kenangan itu membuat hatinya sedih, Arinda ingin mengulang kembali kenangan itu, andai ia diberi waktu untuk mengulang semuanya, ia ingin meminta satu jam saja, dan ia ingin berkata pada Adrian bahwa ia begitu mencintai Adrian. Hari mulai malam, setelah berganti baju Arinda pun beranjak tidur. Malam ini ia tidur dengan mata yang sembab, pikiran yang penuh dengan memori masa lalunya yang indah dan ditemani oleh derasnya hujan diluar kamar.
“aku punya banyak komunitas, aku punya keluarga, dan aku punya cita-cita. Aku harus bagi waktu, sekarang aku gak bisa kasih semua waktuku buat kamu aja..” kata Adrian ketika mereka sedang makan berdua. “iyaa gak apa-apa,, tapi aku minta sesuatu boleh?” kata Arinda, “apa?” Tanya Adrian, “aku gak masalah kamu mau terus-terusan sama komunitasmu, tapi bisa gak dalam seminggu kamu kasih aku satu hari aja buat aku, full buat aku, 6 hari lainnya terserah kamu mau sama temeluargamu, aktifitasmu aku gak akan ganggu..” jawab Arinda, “gak segampankebangetu pikir, jadwalku sekarang padat, senin sampai rabu aku les, jumat juga les, tiap sabtu aku pergi youth, minggu aku pelayanan di gereja..” sahut Adrian, “kamis?? Kamis kamu kosong kan.. bisa kamis kamu kasih ke aku?” Tanya Arinda lagi penuh harapan, “liat nanti yaa..” jawab Adrian tanpa kepastian. Arinda hanya dapat pasrah dan mengiyakan apa kata Adrian, ingin protes pun percuma. Mereka pun pulang, sesampai di rumah Arinda, “udah yaa,, aku pulang dulu.. “ kata Adrian, sebenarnya Arinda masih ingin lebih lama bersama Adrian, tapi ia tak bisa berkata apa-apa, ia hanya mengiyakan. Setelah Adrian pergi, air mata mengalir membasah pipi Arinda, ‘Adrian berubah.. dia berubah’ pikir Arinda, kemudian ia masuk. Sore harinya, hp Arinda berdering, telihat nama Adrian yang menelpon, “halo..” diangkatnya telepon dari Adrian, tanpa basa-basi Adrian langsung bicara, “kamis aku gak bisa, aku malamnya ada nongkrong bareng sama anak-anak kelas..” “siangnya?? Siangnya kan kita bisa pergi..” jawab Arinda “kamu tega sama aku, kamu tega sama badanku.. aku malamnya sama anak-anak kelas, siangnya jalan sama kamu.. tapi gak apa-apa deh kalau kamu maunya gitu..” kata Adrian, “gak usah deh, gak apa-apa, lain kali aja kita pergi.. kalau ada waktu luang..”  sahut Arinda pasrah, ia tahu itu adalah penolakan Adrian secara gak langsung, Adrian tahu bahwa Arinda gak pernah tega kalau Adrian sampai kecapekan. “yaa udah kalau gitu, udah yaa.. aku mau belajar, bye.. ” “iyaa daa..” kata Arinda.
Krriiiingggg…. Krriiiinnnnggg…. “mimpi itu lagi…” kata Arinda yang terbangun karena jam wekernya, “jam berapa sih ini?” sahut sambil mengumpulkan nyawanya yang belum utuh, tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidurnya, mencari jam weker. Kemudian dilihatnya jam weker yang menunjukkan pukul 07.00. “masih jam 7, tidur bentar lagi deh!” sahutnya, tapi niat itu ia urungkan, “gak deh, nanti mimpi lagi..” ujarnya kemudian bangun dan merapikan tempat tidurnya, tiba-tiba telepon genggamnya berdering, joki menelpon, “halo,, apaan? Pagi-pagi udah telpon..” kata Arinda, “eh rin, udah mandi belum lo..?” Tanya joki, “belum lah, lo kira gue anak sekolahan jam segini udah mandi,,” “aduhh buruan mandi deh lu, jam setengah 8 gue jemput,, gaswat ini penting!” “kenapa sih lo,, heboh bener, jelasin dulu kek, ini malah langsung nyuruh-nyuruh orang!” “aduhh,, gini yaa neng, gue lupa kalau nyokap gue hari ini ulang tahun, nah gue belum beli kado, nah lo kan cewek jadi lo ikut gue bantuin cari kado buat nyokap gue..” “aelah.. elo tuh bener-bener yaa,, durhaka.. ulang tahun nyokap aja gak inget, kebangetan lo!”  sahut Arinda menanggapi masalah joki, “udah deh iya lah terserah lo mau ngomong apa, yang penting lu cepetan mandi, gue udah otw ke kos lo okee! Buruannn…!” “iyaa iyaa.. bentar..”. ditutupnya telepon dari joki, Arinda gak habis pikir, ada aja ulahnya si joki, bisa-bisanya ulang tahun mamanya dia lupa, apa virus pikun Arinda udah nular ya ke joki, Arinda terkekeh sendiri memikirkan itu. Arinda pun segera mengambil handuk dan mandi. Guyuran air shower membasahi tubuh Arinda, “jika aku bukan jalanmu, ku berhenti mengharapkanmu.. jika aku memang tercipta untukmu,, ku kan memilikimu.. jodoh pasti bertemu.. “ suara Arinda yang bernyanyi begitu menghayati, hingga gagang shower dipakai sebagai microfon. Setelah selesai mandi Arinda menggunakan baju t-shirt biru dan celana jeans panjang dark blue, kemudian ia segera duduk di meja rias. Arinda memang terkenal tomboy, namun ketika sudah menjadi mahasiswa ia lebih pintar berdandan, dulu sewaktu SMA rambutnya pendek sebahu, kulitnya hitam kecoklatan karena sering kluyuran dan badannya yang pendek tapi gendut. Sekarang Arinda sudah berubah cantik, putih, rambutnya panjang sepinggang dan sekarang ia punya bentuk tubuh yang walaupun masih pendek tapi ideal. Arinda membedaki mukanya, kemudian memakai eyeliner pada mata, dan lipbalm bening, kesannya natural. Segera mungkin ia memakai sepatu kets biru kesayangannya, kemudian ia menguncir rambutnya menjadi satu. “I have die every day waiting for you, darling don’t be afraid I’m love you for a thousand year, love you for a thousand month..” ringtone telepon genggam Arinda berbunyi, tepat setelah ia selesai menguncir rambutnya. “halo rin, gue udah diluar, udah siap belom lo? ” kata joki di telepon “yaa halo,, iya gue udah siap!” jawab Arinda. Segera mungkin Arinda mengambil tas ransel birunnya dan keluar, hari ini Arinda serba biru, maklum ia biru lovers. Sampai diluar ia kemudian membuka pintu depan mobil joki lalu masuk.
“gak sekalian muka lo, gigi lo, dan kulit lo biru juga?” Tanya joki sambil geleng-geleng melihat penampilan Arinda yang serba biru kemudian melajukan mobilnya. “ah, cerewet lo,, untung-untung gue temenin. Jam segini harusnya gue masih dialam mimpi.” Sahut Arinda. “iyaa deh,, diem gue..!” jawab joki. Sesampainya mereka di mall , mereka langsung menuju tempat perbelanjaan wanita. “rin, liat deh.. nih ada kotak perhiasan, menurut lo bagus mana? Yang ini atau ini..?” kata joki yang menunjukkan dua kotak perhiasan yang sangat terkesan mewah, bentuknya oval, mutiara mengiasai pinggiran tempat perhiasan itu, yang membedakan keduanya adalah warna, yang satu berwarna biru muda dan yang satu berwarna hijau muda. Arinda memandangi kedua benda itu dengan seksama. “tergantung..” jawabnya pada joki. “tergantung? Tergantung apa?” Tanya joki yang sedikit tidak mengerti maksud jawaban Arinda. “tergantung nyokap lo suka warna apa, menurut gue sih dua-duanya bagus, dan menurut gue nyokap lo cocok yang warna biru muda, kesannya lebih simple tapi elegan.” Kata Arinda. Kemudian joki mengambil kotak perhiasan warna biru muda dan membawa ke kasir lalu membayarnya. Setelah itu mereka menuju ke food court, joki mengajak Arinda sarapan sebelum mereka pergi ke kampus. Selama mereka makan, mereka berbincang banyak hal. “bentar lagi si Luna ulang tahun, diapain yaa ?” tanya Arinda pada Joki, “elo tuh yah,, sekali aja gak ngerjain temen waktu ulang tahun bisa kagak?! Nanti waktu lo ulang tahun semua pada balas dendam, baru tau rasa lo!” oceh Joki pada Arinda. “idihh,, gue kan tanya baik-baik, lo jawabnya sewot banget! Lagi nih ya, gak mungkin ada yang berani ngerjain gue! Dan gak aka nada yang bisa!” jawab Arinda santai sambil tersenyum simpul, kemudian menyendokkan nasi ke mulutnya. “kok bisa gitu?” Tanya Joki bingung. “yaiyalah bisa, secara nih ya.. ratu usil, mau diusilin?! Yaa gak bisa.lah.. gue pasti tau!” sahut Arinda. “yaudah whatever lah, pokoknya gue udah peringatin lo!” kata Joki pasrah disusul senyum sumringah Arinda, pikir Joki  percuma debat dengan Arinda karna pasti dia tetep kalah ngomong. Setelah mereka makan mereka pergi ke kampus, didalam mobil mereka sibuk sendiri-sendiri. Arinda sibuk ngotak ngatik telepon genggamnya, sedangkan Joki sibuk dengan jalan sambil mendengarkan musik.
Sesampainya mereka di kampus. Baru aja turun dari mobil, seseorang menepuk bahu Arinda, “rin,, lo harus liat nih,, sumpah gue gak percaya sih awalnya.. tapi setelah gue perhatiin bener-bener.. ternya bener! Lo juga pasti kaget! Gue juga kaget benget sumpah! Amsyooong!!” cerocos Luna, salah satu sahabat Arinda juga sama seperti Joki. “aduh Lunaaaa… lo ngomong kayak bebek nyerocos gak tau sebabnya, jelasin dulu satu-satu, dari awal.. jangan tiba-tiba ngomong pertengahannya! Lo kira gue Deddy Cor.. Cor.. Cor siapa gitu ah pokoknya yang bisa baca pikiran lo? Kenapa sih? Ada apa? Lo kaget kenapa?” cerocos Arinda juga gak kalah panjang. Joki yang sedari tadi memperhatikan kedua sahabatnya itu hanya cuma bisa geleng-geleng. Mereka bertiga; Arinda, Luna dan Joki itu semua cerewet, tapi kalau udah ngumpul, bakat cerewet Joki hilang, kalah sama kecerewetan kedua sahabatnya itu. “gue yakin lo pasti kaget rin, dijamin 100%!!” ujar Luna lagi. “iyaa kenapa? Dan kenapa lo bisa yakin kalau gue juga bakal kaget? Pake ada jaminan segala.” Sahut Arinda. “jadi.. ” belum sempat Luna menjawab, Joki memotongnya “weiii,,, ngobrolnya gak usah disini juga kale neng! Gue capek nih berdiri!” “iiihhh Joki!!! Jangan motong omongan gue dong!” sahut Luna kesal. “iya..yaa.. lun,, duduk dikantin, kan lebih enak santai..” kata Arinda sambil menahan ketawa, Luna yang tadi udah mau ngomong dipotong si Joki, gak dibela lagi sama Arinda, dia cuma bisa diem dan memonyongkan bibir tipisnya itu, persis kayak ikan koi deh. Joki yang gak kuat liat muka Luna langsung tertawa berbahak-bahak. Luna yang merasa diketawai oleh Joki gak ngomong apa-apa malah tambah manyun. Akhirnya mereka bertiga pergi ke kantin. Tempat duduk kantin paling pojok belakang itu adalah tempat biasa tiga sahabat itu nongkrong. Gak ada yang pernah dudukin itu tempat, selain mereka. Bukan karna mereka ditakutin, tapi karna tempatnya terlalu pojok.
“udah, lo jangan manyun terus gitu.. udah lanjutin ceritanya lagi, kenapa?” Tanya Arinda pada Luna, “iyee lun,, hahahaha.. jangan manyun aja lo, gemes gue liatnya, pengen gue iket pake karet.. hahaha..” kata Joki sambil tertawa. “diem lo!” ujar Luna ketus sambil melotot kearah Joki. “husshh jok, diem ah,, tambah ngamuk loh!” sahut Arinda menengahi pertengkaran kedua sahabatnya itu, “iyee maaf,, bercanda atuh! Peace..!” kata Joki sambil menunjukkan jari berbentuk ‘V’ lalu dia diam. “udah,, salaman dulu gih,, damai!” ujar Arinda pada kedua sahabatnya, “lo kira lebaran rin, pake salaman segala!” celetuk Joki, mendengar itu mereka bertiga tertawa, iya juga ya ngapain salaman? Kayak anak kecil aja, pikir Arinda yang ikut tertawa, Luna pun tak tahan dan ikut tertawa. “nah,, udah asik lagi kan, yaa.. sekarang lo lanjutin cerita lo..” kata Arinda pada Luna. “gini, lo tau gak gosip kalau ada anak TC jurusan Biologi yang dikabarin gantengnya gak ketulungan itu? Junior kita! Yang baru masuk itu!” ujar Luna bersemangat, “yaa mana gue tau, kan gue bukan panitia ospek! Gue denger sih tuh gosip, ya tapi man ague peduli.. emang kenapa? Itu adik lo?” sahut Arinda. “adik muke lo, adik gue cowok!” kata Luna, “terus,, kenapa lo heboh banget soal itu anak, kenapa juga lo tadi bilang gue pasti kaget, kalau bukan karna itu mungkin adik lo?!” Tanya Arinda bingung. “aiisshh,, nih lo liat sendiri deh,, kenapa gue bilang tadi kalau lo pasti kaget! Gue punya fotonya nih..” ujar Luna sambil memperlihatkan telepon genggamnya pada Arinda, Joki yang diam dari tadi ikut melihat karena penasaran. Itu foto seorang cowok memakai sweter hitam ketat, pas dengan badannya membuat terlihat perfect, dengan celana jeans panjang dan sepatu hijau, yaa Arinda kenal dengan sepatu itu. Adrian,, 



                                                                                                  to be Continue...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jang Geun Suk - Love Rain

bioneun jeonyeok keunyeo moseub bo-wat-jyo.. oraejeon bu-teo bogo shipdeon geunyeoreul.. usani eom-neun geunyeoe-ge marhaet-jyo.. nae usanso-geuro keudae deu-reo-oseyo~ sallangsallangsallang deullyeo-oneun bissori.. dugeun dugeundugeundugeun tteollyeo-oneun nae-gaseum.. sallangsallangsallang dugeundugeundugeun.. usansori.. bissori.. nae-gaseum sori.. sarangbi-ga naeryeo-oneyo.. bioneun geori urin du-ri geo-reot-jyo.. jo-geuman usan nae eokkae–neun jeojeot-jyo.. keunyeoneun nae-ge sujubeun -deut marhaet-jyo.. jo-geumdeo kakka-i geudae deu-reo-oseyo~ sallangsallangsallang budijchineun eokkae-ye.. dugeun dugeundugeundugeun tteollyeo-oneun nae-gaseum.. sallangsallangsallang dugeundugeundugeun.. usansokye du-eokkae- sujubeun eokkae-.. sarangbi-ga naeryeo-oneyo.. nan sarange ppajyeo-nne.. sallangsallangsallang deullyeo-oneun bissori.. dugeun dugeundugeundugeun tteollyeo-oneun nae-gaseum.. sallangsallangsallang dugeundugeundugeun.. usansori.. bissori.. nae-gaseum ...

Maudy Ayunda - Perahu Kertas

Perahu kertasku kan melaju membawa surat cinta bagimu Kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya Perahu kertas mengingatkanku betapa ajaibnya hidup ini Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri *courtesy of LirikLaguIndonesia.Net Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta) cita-cita (cinta-cinta) Yang lama ku pendam sendiri, berdua ku bisa percaya Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu Tiada lagi yang mampu berdiri Halangi rasaku, cintaku padamu Ku bahagia kau telah terlahir di dunia Dan kau ada di antara milyaran manusia Dan...

SOMEDAY (Sebuah kisah menunjukkan bahwa rencana Tuhan tak pernah terduga oleh manusia)

BAB II (OBAT TAK TERDUGA) Medan, 24 Desember 2019 Pukul 09:30 WIB                 Kembali lagi pada tempat yang sama, di meja ujung dengan sofa empuk. Lily menikmati segelas kopi hitam dan sehelai roti selai cokelat. Semalam saat kembali ke dalam kapsulnya ia tak langsung tidur. Mantan pertamanya mengirimkan pesan singkat dan menjadikan obrolan panjang malam itu. Entah seperti obat, percakapan lewan pesan teks itu membuat tidur malamnya menjadi nyenyak, mengingat malam sebelumnya tak bias dia tidur hingga subuh. Pikiran konyol pun terbesit dalam otaknya, jangan-jangan jauh kucari pacar dan ujung-ujungnya aku akan menikah dengan Yudi (mantan pertama Lily)?. Yudi bagai punya koneksi dengan keadaan Lily, dia selalu muncul saat Lily ada masalah, dan menjadi penyembuhnya. Walau Yudi sendiri pun tak pernah sadar akan hal itu. Lily dan Wisnu bekerja sebagai guru, namun jarak memisahkan keduanya, Lily...