BAB III
(LAYANG-LAYANG)
Medan, 25 Desember 2019
Pukul 16:40 WIB
Tak pernah jera, itulah kata yang pantas untuk
menggambarkan sosok Lily. Dia telah dilukai, diabaikan, dan tak dianggap. Hanya
dengan satu kalimat mampu membuatnya bahagia sebentar. Setidaknya rasa sakitnya
terobati walau sedikit dan kembali berharap walau tak mungkin. Lily yang naïf,
bias-bisanya dia berpikir bahwa Wisnu akan dating ke Medan dan memberi kejutan
padanya. Itu tidak akan mungkin terjadi, hanya karna teman dekat Wisnu, Josh
menanyakan banyak hal tentang kegiatannya hari ini, membuat Lily memiliki
harapan yang mustahil. Tidak akan pernah keinginan Lily terjadi. Wisnu,
laki-laki itu telah ada di dunia nya sendiri, kepada kesenangannya dan Lily
hanya sebuah tempat saat dia butuh, harusnya Lily sadar itu. Lily terlalu naïf,
dan terlalu bodoh sebagai seorang perempuan. Seperti saat ini, sepulang dari
gereja untuk ibdah natal, Lily mengirimkan pesan kepada Wisnu. “Bee, boleh aku
telepon kamu? aku kangen..” tulis Lily dan kemudian dikirimkannya. Pesan macam
apa itu, mana ada seseorang ingin menghubungi kekasihnya harus meminta izin
kepada kekasihnya, konyol. Itulah yang dillakukan Lily, melihat pesan telah
terkirim dan status Wisnu saat itu sedang online, dengan terburu-buru Lily
menelpon Wisnu. TIDAK DIANGKAT, TIDAK DIHIRAUKAN, itulah yang terjadi. Semua,
harapan itu lenyap. Lily terlalu bodoh, dengan masih tetap bertahan, tapi
bagaimana, hanya Wisnu lah yang mau menerima dia yang sudah tidak layak untuk
laki-laki.
Mengapa kau lakukan ini kepadaku
Wisnu? Apa salahku hingga kau mengabaikanku? Katakana, dan aku akan berubah.
Tapi tolong jangan tinggalkan aku dalam diam seperti ini. Aku merasa seperti
wanita yang begitu rapun, kau meninggalkan aku tanpa salam, dank au dating
dengan sebuah kalimat pengharapan, kemudian mengabaikanku lagi. Oh Tuhan, jika
aku memang harus berpisah, pisahkan aku sekarang, jangan kau tunda-tunda.
Wisnu, bila kau tak mencintai aku lagi katakana dan putuskan aku, jangan kau
abaikan aku, kau tinggalkan aku tanpa salam dan tanpa berucap. Itu sangat
menyakitkan. Kau membuat aku seperti laying-layang yang kau tarik ulur dan
suatu saat ketika kau putuskan, aku akan terbang entah kemana, kemudaian jatuh
tak berharga lagi. Mengapa kau begitu kejam? Setidaknya ucapkan sesuatu sehingga
aku mengerti, jangan hokum aku dengan diammu. Sungguh ini menyiksa. Aku tak
sanggup. Berapa lama lagi kau akan seperti ini? Batin Lily menangis dan menjerit.
Meja pojok menjadi tempat paling nyaman untuk
Lily dengan dirinya yang kesepian dan penuh kesedihan. Kali ini natal menjadi
salah satu momen yang akan terus dikenangnya. Karena pada natal hatinya
menangis, dan tidak seorang pun mendengar, bahkan Tuhan pun tak. Tuhan tak
memberi tanda apa yang harus dilakukan, ataukah sebenarnya Tuhan telah menunjukkan
dan Lily tak pernah peka. Lily sudah lelah menangis, tetapi setiap dia sendiri,
hatinya remuk, mengingat Wisnu, hatinya menjerit, air mata tak mau berhenti
mengalir. Kumohon Tuhan, buat Wisnu
kembali padaku, maafkan atas egoku, tapi jika tidak bisa, hentikan semua ini,
buat dia mengakhirinya dan aku…. Mungkin aku akan sangat terluka, tetapi aku
telah mendapatkan kejelasan. Kembali Lily membatin. Tiga puluh menit lagi
Lily akan beranjak dari kursinya dan kembali pada kapsulnya, ia akan mandi dan
mungkin sedikit lama, air mata akan benar-benar keluar hingga matanya kering
bersama dengan jatuhnya air shower.
“I can hold my breath, I can bite my
tongue
I can stay awake for days, If that’s
what you want
Be a number one
I can fake a smile, I can force a
laugh
I can dance and play the part, If
that’s what you ask
Be you all I am
I can do it (3x)
But I’m only human
And I bleed when I fall down
But I’m only human
I crash and I break down
Your word in my head, knive in my
heart
You build me and then I fall apart
Cause I’m only human”
Human - Christina Perri
Waktu
pun berlalu dan sekarang pukul 17:30, Lily segera merapikan bawaannya dan
membayar pesanannya. Dia bergegas naik dan bersiap mandi, dia harus keramas
karena dia merasa rambutnya sudah sangat lengket sekarang. Lagu dari Christina
Perri itu mengalun lembut dan terdengar begitu menyakitkan. Lily merasa, dia
harus tahu diri sekarang, pantaslah bila Wisnu meninggalkannya, dia hanya
wanita murah yang tak pantas untuk dimiliki.
Lily kemudian menikmati ritual
mandinya. Kali ini dia mandi dengan berpikir, banyak hal yang mengisi otaknya
dan menuntutnya untuk berpikir walau dia tak mau. Dia merasa lelah memikirkan
Wisnu, entalah jika itu mau Wisnu, Lily akan ikuti, kalau Wisnu lebih bahagia
dengan menyiksa perasaan Lily seperti ini, baiklah. Hanya satu hal yang menjadi
kekhawatiran Lily, yaitu jangan sampai ketika Wisnu menghubunginya, semua sudah
terlambat. Lily selalu mencoba berpikir waras, namun terkadang depresi itu
datang, perasaan selalu gagal dalam menjalani hubungan, perasaan kecewa,
perasaan tak mampu menjaga hubungan, perasaan kesedihan yang mendalam, Lily
takut suatu saat dia tak berpikir waras lagi dan melakukan hal nekat. Beberapa
kali Lily pernah berpikir untuk menyelesaikan semuanya. Lily merasa, mungkin
dengan menyelesaikan semuanya, masalah akan teratasi. Lily kadang berpikir,
apakah Tuhan melihat penderitaan hatinya? Tapi terlalu egois Lily menuntut
Tuhan , disisi lain Lily merasa tak pantas karena semua hal yang pernah dia
lakukan, ia merasa tak pantas juga untuk meminta Tuhan meringankan
penderitaannya. Selama ini dia yang tak pernah setia, ketika dia terkena
masalah dia akan datang pada Tuhan, tetapi ketika masalah itu diselesaikan,
Lily kembali lagi melakukan dosa yang sama. Lily putus asa, dia tak tahu harus
bagaimana, ia ingin berdoa meminta pertolongan Tuhan, tetapi disisi lain dia
merasa tak pantas meminta bantuan Tuhan. Kini dia merasa sendiri, hidupnya
serasa tak berharga dan tak layak lagi. Sedih, kata itu mampu merangkum semua
hal yang dirasakan Lily.
Setelah
Lily mandi, dia bergegas masuk kembali kedalam kapsul, dan Lily menyalakan TV.
Dia berencana menonton acara INI TALKSHOW
di NET. Lily mau melupakan kesedihannya, dengan melihat Sule dan Andre,
komedian Indonesia itu, ia berharap bisa tertawa lepas seperti biasa. Beberapa
adegan membuat Lily tertawa geli, tetapi tertawa yang tak lepas. Lily tak tahu
kenapa dia tertawa sambil menangis. Lily terbawa perasaan untuk hal yang
sebenarnya biasa saja untuk dilihat, tetapi membuat Lily mengingat Wisnu. Tega ya kamu? Kamu pun gak pikirkan
perasaanku, apa mau mu bee..? sebegitu tidak berharganya aku? Batin Lily.
Malam itu Lily merasa dia akan mengingat natal tahun 2019, karena disaat itu ia
merasa begitu pedih perasaannya. Pergumulan yang tak tahu harus diapakan. Terserah padaMu Tuhan, aku tak tahu mau
meminta apa, aku merasa bersalah apabila meminta Engkau memperbaiki hubunganku,
tapi aku sangat rapuh bila kehilangan dia. Karna dia aku bisa melupakan Vale,
karna dia yang kau berikan untukku dua tahun lalu, membuat aku bisa memaafkan
Vale yang sudah selingkuh, sehingga kami putus. Tapi dia juga membuatku, bukan
karena dia, tapi aku kehilangan kendali akan diriku dan melakukan dosa yang
membuat Engkau kecewa. Untukmu Wisnu, aku lelah, terserah kau mau lakukan apa
padaku, kalau dengan menyakitiku membuatmu bahagia, sudahlah. Mungkin takdirku
untuk merasakan kecewa, mungkin aku harus selalu terbiasa dan lebih
mengendalikan perasaan. Baiklah, biarkan aku akan menikmati perasaan ini, aku
akan menikmati perasaan terabaikan ini, aku akan menikmati rindu yang tak
dipedulikan, biarlah. Kutunggu hingga waktu itu tiba, entah mungkin kau akan
kembali dan kita bersama, atau kita akan berpisah. Aku hanya akan terus
mendoakan yang terbaik untukmu, semoga kau sehat. Aku mengampunimu dan aku
mengasihimu, Wisnu. Doa Lily dalam hati. Lily memutuskan untuk membiasakan
diri terluka jika itu memang takdirnnya. Hanya Tuhan yang tahu masa depannya,
dan dia akan mengikuti alurnya. Lily terlalu lelah menjalani hidupnya, Lily
terlalu lelah dengan pemikirannya, lelah memikirkan dan berharap tapi tak
pernah dan tidak terjadi sesuai yang dia inginkan. Kadang Tuhan membiarkan
masalah datang ke hidup kita, bukan karena Tuhan tidak sayang, tetapi karna
Tuhan tahu dan mau kita datang kepadaNya. Karena ketika kita bahagia, kita
sering lupa kedekatan kita dengan Tuhan seperti ketika kita sedang bergumul.
Semoga hari esok membuat Lily kuat. Mungkin mulai sekarang, ketika bangun tidur
di pagi hari, Lily harus berdoa dengan penuh ucapan syukur dan meminta kekuatan
menjalani hari-harinya setelah ini. Natal tak selalu membawa sukacita
kebahagiaan seperti mau kita, tapi mungkin Tuhan mau mengajarkan kita bersyukur
saat Natal dengan luka yang kita miliki.
CONTINUE....
Komentar
Posting Komentar